Autisme menjadi gejala psikologis yang mengemuka di masa kini, pada dasarnya autism bukanlah merupakan penyakit, namun sebuah gejala gagal fokus atau konsentrasi psikologis. Gejala autism jamak terjadi pada anak terutama yang memiliki terlalu banyak tekanan terhadap keinginannya yang mesti ditunda atau tidak dipenuhi oleh orang tuanya. Biasanya autism berkembang pada anak yang pergaulan sosialnya sedikit dengan lingkungan tapi melihat terlalu banyak dari berbagai media yang tersedia di rumah seperti televisi, komputer dan handphone. Sehingga indera penglihatan dan pendengarannya bekerja lebih banyak dibanding bergeraknya, yang mengakibatkan kelelahan (fatigue) pada syaraf indera tertentu.

Pada umumnya orang tua mengenal anak dengan kebiasaannya berkhayal tentang sesuatu yang di ceritakan kepada mereka oleh anak. Gejala khayalan tersebut apabila di ceritakan dan di atur oleh orang tua mereka akan berakibat positif kepada anak, daya kreatif anak akan terbentuk sedemikian rupa, sehingga ketika anak masuk ke usia pendidikan atau sekolah, mampu dengan cermat mencerna pelajaran. Gejala autism merupakan kebalikan dari proses daya khayal menjadi daya kreatif, anak memiliki kecenderungan pasif dan tertutup, sehingga apa yang terjadi di benak mereka tak di ceritakan kepada orang tua dan tak mampu memiliki daya kreasi.

Gejala pada anak terbiasa berpikir di luar jangkauan dirinya, seperti pesawat terbang dan burung, kapal laut dan ikan, serta sepeda dan motor atau mobil. Kecenderungan yang mengakibatkan menjadi gejala autism adalah tidak tersalurnya daya imajinasi anak secara rural (tutur,tulis dan gambar) sehingga imajinasi anak terkurung di pikirannya sendiri tanpa bisa di salurkan. Beberapa hal yang menjadi faktor gejala autism, diantaranya adalah faktor keluarga dan faktor lingkungan.

Faktor keluarga yang kerap terjadi pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan factor yang dominan terhadap gejala autism, yang membuat anak secara mental mengalami down syndrome terhadap yang ada di benak imajinasi untuk jadi kenyataan. Terutama apabila anak mengalami kekerasan seperti dibentak atau dipukul oleh orang tua mereka, maka gejala autism sangat mungkin terjadi terhadap anak. Ilustrasi factor keluarga bukan berarti pula orang tua kemudian memanjakan anak dengan memenuhi segala kemauannya, namun perhatian terhadap pertumbuhan otak dan fisik anak sedini mungkin mesti diperhatikan.

Asupan gizi pun memiliki pengaruh dalam faktor keluarga, tidak selamanya faktor umur anak mempengaruhi gejala autism, misalnya anak berumur Sembilan bulan dari kelahirannya dengan asupan ASI ekslusif mampu merangkak dan berjalan namun belum bisa berbicara, maka deteksi dini terhadap autism mesti dilakukan. Begitupula dengan anak yang asupan gizinya menggunakan susu sapi pada umur satu tahun kelahirannya, sudah bisa berbicara namun tak bisa berjalan maka deteksi dini terhadap autism pun perlu dilakukan.

Kemudian factor berikutnya adalah lingkungan, teman anak menjadi pokok dalam perkembangan psikologisnya, yang pada awalnya merupakan orang tua sebagai pendamping juga teman anak, ketika masuk ke lingkungan seperti saudara, tetangga atau sekolah, anak memiliki kecenderungan tersendiri. Pada anak, orang tua adalah dunia bagi mereka, ketika bertemu dengan lingkungan alam bawah sadarnya memiliki kecenderungan paradox atau bertolak belakang dari ajaran orang tuanya. Terkadang lingkungan memberi dampak positif, namun tak sedikit memberi dampak negative. Faktor lingkungan menjadi perhatian bagi orang tua untuk memilih, misalnya memilih rumah atau memilih sekolah bagi anak.

Lingkungan juga tidak selamanya dihadapkan pada pengaruh positif negative, boleh jadi lingkungan merupakan kecocokan apakah anak betah atau tidak di lingkungannya. Kecenderungan autism yang dipengaruhi lingkungan adalah ketika anak tak memiliki kemampuan membaur terhadap lingkungan, gejala tersebut juga membuat anak sedikit memiliki teman atau tidak memiliki teman sama sekali. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa gejala, misalnya anak memiliki begitu banyak mainan sehingga anak tidak mampu berteman dan lebih suka dengan mainannya sendiri. Lalu misalnya, anak tidak memiliki mainan sehingga tidak bisa melakukan aktivitas bermain selain sama temannya, dan dalam bermain tersebut anak dipengaruhi mentalnya berdasarkan kepemilikan permainan.

Penjabaran mengenai lingkungan dan suasana bermain tidak berarti merupakan ketimpangan social atau ekonomi. Namun dipengaruhi pada inferior dan superioritas anak terhadap lingkungan yang mengakibatkan anak cenderung introvert atau ekstrovert terhadap lingkungan. Psikologis anak seperti yang disebutkan kecenderungan yang mesti diperhatikan oleh orang tua terhadap anak, sebab apabila anak inferior dan introvert, maka cenderung tertutup. Sedangkan apabila superior atau ekstrovert cenderung meletup-letup tak tentu arah, dan terkadang tak menentu secara emosional. Deteksi dini terhadap autism pada level lingkungan juga membutuhkan perhatian khusus, sebab pada level ini justru saat anak telah mampu berinteraksi secara social, namun mengalami perubahan mental akibat bias kultural atau kebiasaan yang disebut dengan shock culture. Culture Shock tidak hanya terjadi pada anak kecil, kecenderungan mental seperti ini terjadi pada anak hingga umur 30 tahun yang juga berujung pada autism atau ketidakmampuan anak menginteprasikan dan mengapresiasikan lingkungan sewajarnya, dan benaknya cenderung terpisah dari kenyataan.

Sebagai sebuah gejala psikologis pada anak, sesungguhnya autism apabila mampu di deteksi secara dini dan imajinasi anak yang menggejala bisa menjadikan anak yang memiliki daya kreasi yang tinggi. Dengan kemampuan anak untuk menalar dan menakar keadaan sekitarnya, boleh jadi gejala psikologis autism memunculkan tumbuhnya harapan akan masa depan yang lebih baik bagi lingkungan. Kecenderungan tertekan secara psikologis atau mengawang secara mental, justru mampu menawarkan keluarga dan lingkungan yang lebih kondusif di masa dewasanya, sehingga ke khawatiran bahwa autism akan berlaku permanen justru bisa ditanggulangi, bahkan mampu memberikan kontribusi kepada keluarga atau lingkungannya tentang keadaan yang seharusnya dan lebih baik.

Misalnya, kecenderungan autism yang disebabkan KDRT, apabila mampu diatasi maka anak di masa dewasanya akan mampu menjadi orang tua yang memiliki daya kasih (asah, asih dan asuh) yang mumpuni. Dengan trauma yang dimilikinya di masa kanak-kanak justru memunculkan sosok dewasa yang mampu menahan emosionalnya untuk tidak melakukan KDRT di masa dewasanya. Begitupula dengan lingkungannya, kecenderungan anak yang memiliki kecenderungan autism, justru mampu membentuk lingkungan sedari awal hingga akhir dan apabila diberikan tanggungjawab menjadi ketua RT atau ketua RW di masa dewasanya, maka anak akan memiliki kelebihan tersendiri di lingkungannya.

Lalu bagaimana anak yang memiliki kecenderungan autism mampu bekerja dan berkarya secara swakarsa atau swadaya; juga apabila menjadi seorang professional yang bekerja di perkantoran atau perusahaan. Anak dengan kecenderungan autism, apabila dapat ditanggulangi di masa pertumbuhannya, justru mampu menjadi sosok yang memudahkan pekerjaan banyak pihak. Seorang anak yang memiliki kecenderungan autism mampu menjadi cleaning service dan justru memiliki kemampuan untuk menjadi direktur sebuah perusahaan bertaraf internasional dengan daya kreasi yang dimilikinya. Anak dengan kecenderungan autism justru di masa dewasanya mampu memberikan jawaban untuk memudahkan keadaan dan memberikan solusi yang memenangkan semua pihak di bidang profesionalisme kerja. Misalnya, anak yang memiliki kecenderungan autism punya kebiasaan untuk bermain computer, apabila diberikan kursus computer, dirinya mampu membuat software yang rumit dengan pemakaian yang memudahkan. Begitupula apabila diajarkan praktek mesin atau kegiatan eksakta lainnya, tentunya apabila anak dengan kecenderungan autism diajarkan cara memasak, menulis, menggambar, baik di kertas fisik maupun di perangkat teknologi, mudah baginya untuk mengerjakan banyak pekerjaan, dan bisa menjadi modal bagi dirinya untuk mampu hidup secara mandiri.

Demikian ulasan mengenai kecenderungan autism pada anak, dan penanggulangan berdasarkan pertumbuhan mentalnya. Perlu diperhatikan bagi anak yang memiliki gejala autism bahwa pertumbuhan mental bukanlah berdasarkan umur, tetapi berdasarkan pertumbuhan otak dan fisiknya. Untuk diketahui pula oleh setiap keluarga muda, penulis menyebutkannya sebagai gejala bukan penderita, sebab memang autism merupakan proses pertumbuhan mental bukan penderitaan yang diakibatkan oleh kuman atau virus tertentu yang mengakibatkan munculnya penyakit, apalagi disebut cacat, sama sekali tidak. Autism juga tidak berkaitan dengan genetical atau DNA pada darah, sehingga tak ada istilah penyakit turunan, tetapi lebih disebabkan oleh interaksi otak dan fisik yang berkaitan dengan indera yang ada di tubuh anak. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s