Amerika Serikat menuju pemilihan presiden (pilpres) 2016 mulai bergulir, debat antar kandidat, baik dari partai Republik maupun dari partai Demokrat. Pada jajak pendapat pilpres AS 2016, Donald Trump muncul sebagai kandidat unggulan dengan 35 persen suara, sementara kandidat perempuan Carly Fiorina, menempati posisi ketiga dari jajak pendapat dengan 10 persen suara dari partai Republik; dilain pihak partai Demokrat memunculkan nama populer yakni Hillary Clinton, tampil sebagai unggulan jajak pendapat 37 persen.

Tahapan debat telah memunculkan berbagai tema mengenai janji kampanye kandidat, yang paling sering dimunculkan adalah topik imigran gelap, penyalahgunaan narkoba, sektarianisme agama dari partai Republik. Partai Demokrat memunculkan topik keamanan nasional, penyimpangan intelejen dan keamanan dunia maya.

Donald Trump mengungkapkan, begitu banyaknya kasus imigran gelap dan penduduk yang sengaja berkewarganegaraan ganda, menjadi penumpukan cakupan keamanan perbatasan. Sektarianisme agama yang dikaitkan dengan terorisme terus digaungkan.

Ia menyatakan, kebutuhan keamanan di perbatasan perlu diperkuat peraturannya, ketegasan dalam pelarangan imigran gelap perlu ditinjau ulang agar pelanggaran tak kembali terjadi.

Saat naskah diterbitkan, Hillary Clinton sedang dalam proses fit and proper test terkait dengan pencalonannya dalam pilpres AS 2016. Kongres AS mempertanyakan kesiapannya terkait kegiatan keamanan nasional, keterlibatan AS dalam penanggulangan terorisme semasa dirinya menjadi Menteri Luar Negeri AS.

Hillary Clinton mengutarakan, keamanan nasional yang terkait dengan komputerisasi dokumen negara dan penyelewengan intelejen yang membocorkan rahasia negara. Kebutuhan untuk menyelenggarakan negara dengan tingkat keamanan yang mumpuni akan diterapkan olehnya apabila terpilih.

Dia mengatakan, semasa menjadi Menlu AS dirinya menyampaikan telah menempatkan negara sebagai pendamai dari negara yang dalam keadaan menerima sanksi dari PBB terkait penggunaan nuklir di Iran. Sementara mengenai keterlibatan AS dalam perang ISIS atau ISIL di Suriah masih dalam proses sengketa, begitupula dengan pengungsi Suriah yang mendatangi Eropa untuk mendapat suaka.

Berdasarkan pengamatan IAS, tampak sekali Amerika Serikat dalam perjalanan menuju pengukiran sejarah kembali setelah terpilihnya Barrack Obama dengan menyerukan presiden perempuan, dan tampaknya rakyat AS mempersiapkan terpilihnya presiden perempuan. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s