Teori pembebasan tentang kemerdekaan dan hak umat manusia untuk hidup bahagia dan sejahtera, memang sedikit rumit apabila diterjemahkan dalam bentuk tumpukan-tumpukan buku. Untuk dimengerti bersama bahwa pentingnya hukum menjadi panglima dalam bernegara dan berbangsa, adalah agar tidak terjadi sebaliknya.

Pada acara Indonesian Lawyers Club yang disiarkan TvOne, Prof. JE Sahetapy memberikan penjelasan, Hukum ada justru untuk membuat pihak yang bersalah tidak hidup bahagia dan sejahtera namun memperbaiki hidupnya, agar pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak lolos dari jeratan hukum. Hal inilah yang membuat sendi-sendi hukum begitu kompleks meski tujuannya sederhana yakni bahagia dan sejahtera. Yang benar mendapat haknya dan yang bersalah mendapat ganjarannya.

Di acara tersebut Prof. Dr. Arbi Sanit turut mengungkapkan, Jeratan hukum justru dibuat agar pihak-pihak yang ingin berbuat salah menjadi mengurungkan niatnya dan berbalik berbuat benar. Begitupula ketika perangkat-perangkat hukum dibuat untuk mencapai ketertiban umum dan memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan. Tentunya apabila ada sekelompok pihak yang berbuat jahat, maka yang berbuat baik akan dirugikan, sementara apabila berbuat baik maka secara umum keadaan akan membaik.

Filosofi hukum positivism seperti ini seringkali mendapat banyak tantangan, terutama dari pihak-pihak yang merasa terjepit oleh sistem berbangsa dan bernegara, sehingga mengalami kesulitan menemukan kebahagiaan dan kesejahteraan. Namun hukum pun tidak bodoh, hukum memahami pihak yang terjepit oleh keadaan dan pihak yang terlena dengan kejahatan.

Asumsi hukum tajam ke bawah tumpul ke atas juga telah terpatahkan dengan perangkat hukumnya yang telah tertangkap dan dijadikan terdakwa. Kasus yang paling dekat adalah tertangkapnya Ketua PTUN Medan atas kasus suap Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho; kemudian merembet ke banyak pihak seperti pengacara OC Kaligis dan fungsionaris Partai Nasionalis Demokrat Rio Capella.

Tentunya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hukum memiliki kekuatan penuh untuk menghadapi pelaku kejahatan baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Telah diperlihatkan oleh para pelaku hukum bahwa mereka tidak tebang pilih. Memang masih banyak pertanyaan tentang supremasi hukum di era Jokowi JK, tetapi hukum telah membuktikan banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperoleh keadilan. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s