Perkembangan Realisasi Asumsi Makro Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi sampai dengan 30 Juni 2016 atau semester 1 tahun 2016 diperkirakan mencapai 5,0 persen, lebih tinggi dibandingkan semester 1 tahun 2015 yang mencapai 4,7 persen dan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2015 yang mencapai 4,8 persen. Pertumbuhan ekonomi pada semester 1 tahun 2016 ini terutama didukung oleh kinerja pertumbuhanPembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang cukup baik seiring dengan pembangunan infrastruktur yang telah berjalan, serta konsumsi rumah tangga dan Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) juga tumbuh relatif stabil. Pada semester 2 tahun 2016 pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan semakin baik sehingga pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2016 dapat lebih baik dari tahun 2015.

Berdasarkan perkembangan data terbaru, tingkat inflasi bulan Juni tahun 2016 sebesar0,66 persen (month-to-month) atau 1,06 persen (year-to-date) atau 3,45 persen (year-on-year). Laju inflasi ini terutama disebabkan kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, antara lain seperti kelompok bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau serta sandang.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD) pada tanggal 30 Juni 2016 sebesarRp13.298 per USD. Adapun rata-rata nilai tukar rupiah dari bulan Januari 2016 hingga akhir Juni 2016 mencapai Rp13.420 per USD, lebih rendah dibandingkan asumsi dalam APBNP 2016 yaitu sebesar Rp13.500 per USD.

Sementara itu, harga rata-rata minyak mentah Indonesia pada bulan Juni 2016 mencapai USD44,5 per barel. Sedangkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia pada semester 1 Tahun 2016 mencapai USD36,2 per barel, lebih rendah dibandingkan asumsi dalam APBNP 2016 sebesar USD40 per barel.

Selanjutnya, realisasi lifting minyak pada bulan Mei 2016 mencapai 824,27 ribu barel per hari (bph), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 794,33 ribu bph. Adapun rata-rata capaian lifting minyak sepanjang bulan Desember 2015 hingga Mei 2016 mencapai sebesar 816,73 ribu bph. Di sisi lain, realisasi lifting gas bulan Mei 2016 mencapai 1.076,23 ribu barel setara minyak per hari (bsmph), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1.218,45 ribu bsmph, sehingga capaian lifting gas sepanjang bulan Desember 2015 hingga Mei 2016 sebesar 1.201,21 ribu bsmph.

 

Perkembangan realisasi Pendapatan dan Belanja Negara

Hingga akhir semester 1 tahun 2016, realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai  Rp634,7 Triliun atau sebesar 35,5 persen dari target APBNP tahun 2016 sebesar Rp1.786,2 Triliun. Sedangkan realisasi belanja negara mencapai Rp865,4 Triliun atau sebesar 41,5 persen dari pagu APBNP tahun 2016 sebesar Rp2.082,9 Triliun. Berdasarkan realisasi pendapatan dan belanja negara tersebut, realisasi defisit APBN mencapai sebesar Rp230,7 Triliun atau 1,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi pendapatan negara yang bersumber dari penerimaan perpajakan sampai dengan bulan Juni 2016 mencapai sekitar Rp522,0 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2015 yang mencapai sekitar Rp535,1 triliun. Penerimaan perpajakan tersebut bersumber dari Penerimaan Pajak sebesar Rp460,7 triliun dan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp61,3 triliun. Khusus penerimaan pajak pada bulan Juni 2016 mencapai sebesar Rp96,6 Triliun, lebih besar dibanding bulan Juni 2015 yang mencapai sebesar Rp80,5 Triliun. Penerimaan pajak bulan Juni terbilang cukup tinggi terutama didorong oleh membaiknya kondisi makro ekonomi yang didukung oleh peningkatan belanja Pemerintah yang semakin positif. Selain itu, terdapat peningkatan setoran pajak penghasilan (PPh) Badan, setoran pajak atas revaluasi aktiva tetap, serta peningkatan konsumsi yang berpengaruh pada penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri. Disamping itu, meningkatnya konsumsi dan perputaran uang selama musim lebaran diharapkan akan berpengaruh pada penerimaan pajak bulan Juli dan Agustus 2016. Selanjutnya, dengan telah terbitnya Undang-Undang Pengampunan Pajak diharapkan membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap penerimaan pajak pada bulan-bulan yang akan datang.

Sedangkan realisasi pendapatan negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan bulan Juni 2016 mencapai sebesar Rp112,1 Triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2015 yang mencapai sebesar Rp132,4 Triliun. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas dan menurunnya setoran bagian laba BUMN, meskipun terdapat peningkatan penerimaan dari PNBP lainnya dan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU).

Sementara itu, realisasi belanja negara yang digunakan untuk belanja Pemerintah Pusat mencapai sekitar Rp481,3 Triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2015 yang mencapai Rp417,5 Triliun. Belanja Pemerintah Pusat tersebut meliputi belanja K/L sebesar Rp262,8 Triliun dan belanja non K/L sebesar Rp218,5 Triliun. Tingginya realisasi belanja K/L dipengaruhi oleh upaya percepatan realisasi belanja antara lain melalui percepatan lelang sebagaimana terlihat pada peningkatan belanja modal dan belanja barang yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2015. Di sisi lain, belanja negara untuk untuk transfer ke daerah dan dana desa juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari sebesar Rp334,7 Triliun pada periode bulan Januari sampai dengan Juni 2015, menjadi sebesar Rp384,0 Triliun pada periode yang sama tahun 2016. Peningkatan ini antara lain bertujuan untuk mendorong pembangunan infrastruktur di daerah.

 

Perkembangan Realisasi Pembiayaan

Dalam rangka membiayai defisit APBN sepanjang semester 1 tahun 2016, Pemerintah telah melakukan pengadaan pembiayaan sebesar Rp276,6 Triliun yang berasal dari pembiayaan utang sebesar Rp277,8 Triliun dan non-utang sebesar negatif Rp1,2 Triliun. Pembiayaan utang bersumber dari penerbitan SBN dan penarikan pinjaman, sedangkan pembiayaan non-utang bersumber dari perbankan dalam negeri.

Realisasi pembiayaan utang berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp301,9 Triliun atau sebesar 82,8 persen dibandingkan target APBNP tahun 2016 dan penarikan pinjaman sebesar negatif Rp24,2 Triliun. Sementara itu, realisasi penarikan pinjaman luar negeri melalui pinjaman program adalah sebesar USD500 Juta atau ekuivalen Rp6,7 Triliun yang berasal dari World Bank.

Dalam rangka memanfaatkan kondisi likuiditas pasar keuangan global yang cukup tinggi, mengantisipasi ketidakpastian kondisi pasar keuangan global pada semester 2 akibat kenaikan fed rate, dan mendukung pembiayaan untuk percepatan belanja Negara, pada bulan Juni 2016 Pemerintah menerbitkanGlobal Euro Bond sebesar EUR3,0 Miliar danSamurai Bond sebesar JPY100 Miliar.Permintaan atas penerbitan Global Euro Bondcukup tinggi mencapai EUR8,36 Miliar. Hal ini mengindikasikan kepercayaan investor asing terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang positif sebagaimana terlihat pada terkendalinya inflasi, penguatan nilai tukar rupiah, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik.

Berdasarkan hasil realisasi defisit anggaran sebesar Rp230,7 Triliun dan realisasi pembiayaan anggaran sebesar Rp276,5 Triliun, maka dalam pelaksanaan APBN sampai dengan akhir semester 1 Tahun 2016 terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp45,9 Triliun. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s