Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, telah memutuskan untuk maju melalui partai politik dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 nanti. Sikap Ahok ini dinilai inkonsistensi dan mengecewakan banyak pihak, setelah sebelumnya dia (Ahok) mendeklarasikan mosi tidak percaya Parpol dan hendak maju di Pilgub DKI Jakarta dengan Independent.
Belum usai kritikan mengenai inkonsistensi itu, Ahok kembali mendapat kritikan yang tidak menyenangkan. Kali ini kritikan itu muncul dari beredarnya spanduk yang bertuliskan penolakan warga terhadap Ahok di Pilkada 2017. 

“Dengan memilih jalur partai politik, sesungguhnya Ahok telah menjilat ludah sendiri yang pernah menghujat dan merendahkan martabat partai, serta membohongi temannya sendiri, yakni Teman Ahok.” ujar Edysa Girsang.

Eq, sapaan akrab Edysa Girsang juga menambahkan, bahwa beredarnya spanduk penolakkan Ahok dan gerakan tiga juta KTP menolak Ahok merupakan ekspresi kekecewaan warga terhadap etika berpolitik Ahok. 

“Tindakan warga (menolak Ahok) itu kan bentuk kemarahan warga terhadap sikap semena-mena Ahok selama memimpin ibukota. Bahkan, bukan hanya warga Jakarta saja, warga Surabaya pun menunjukkan kebenciannya kepada Ahok, saat dia (Ahok) berusaha memprovokasi Risma dengan Jokowi terkait kesamaan kader PDI Perjuangan dan posisi Presiden,” terang Eq yang juga sebagai Bacagub DKI Jakarta dari PDI Perjuangan.

Di mata Eq, tidak ada alasan yang masuk akal bagi PDI Perjuangan untuk mengusung Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017 nanti berdasarkan nilai-nilai idiologi dan perjuangannya. 

“Saat ini PDI Perjuangan memang belum mengumumkan keputusan partai terkait Pilgub DKI 2017, namun sesuai dengan semboyan partainya wong cilik, maka semestinya PDI Perjuangan juga mendengarkan suara wong cilik yang tidak mau Jakarta dipimpin Ahok dengan segala tindakan kasarnya terhadap rakyat.” tegas Eq yang pernah menjadi ketua posko pemuda mahasiswa pro Mega di tahun 1996 silam.

Eq juga mengapresiasi keputusan DPD DKI Jakarta PDI Perjuangan yang dipimpin plt bung Bambang DH untuk tidak mengusung Ahok untuk menjadi calon pada pilkada 2017 nanti.

“aku salut atas keberanian mereka untuk mendengar suara rakyat arus bawah, ini saatnya suara rakyat yang berlaku.” ujarnya. 

Sementara pada kesempatan yang berbeda, Ahmad F. Ridha, Director executive Ryamizard Institute menyatakan bahwa, komunikasi politik yang dilakukan Ahok adalah buruk. 

“Baik itu menyangkut keputusan pemerintahan hingga Pilkada tidak menunjukkan etika kebangsaan, bahkan mencerminkan adat ketimuran pun tidak. Terutama ketika dia (Ahok) dan pendukungnya menyampaikan pernyataan yang Asimetris dan bersifat distorsi” Pungkas Ahmad

Ahmad menghimbau agar masyarakat jeli dan cerdas dalam memilih seorang pemimpin. “kita harus waspada dengan prilaku pimpinan pemerintahan yang seperti itu.” pungkas Ahmad. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s