Bantaran Sungai Ciliwung yang Dipadati Penduduk
Bantaran Sungai Ciliwung yang Dipadati Penduduk

Oleh Baginda Ali Zubeir Hasibuan

Dalam dekapan malam aku mencoba mengajak kita semua untuk membelai ingatan tentang masa lampau. Dimana kita disuguhkan tentang opini-opini dan angka-angka kerugian yang diakibatkan oleh banjir dan kemacetan. Dimana dengan gamblang LIPI Menyebutkan kerugian Jakarta 45,2 Trilliun/tahun akibat banjir dan 65 Trilliun/tahun akibat kemacetan, disisi lain hasil penelitian Geoteknologi LIPI tahun 2005 mengatakan dari data GPS (Global Positioning Sistim) Kontur tanah di Jakarta mengalami amblas 25 cm/tahun yang diakibatkan menajemen air dan bangunan.

Kemudian coba kita mengelikan ingatan pada wajah-wajah lugu balita yang menjadi korban penggusuran dan rumah-rumah sederhana milik warga Jakarta dengan Tanah. Sesekali coba bertanya didalam sanubari kita yang terdalam :

 

Siapa sebenarnya yang merugi sampai Rp 110, 2 triliun/ Tahun.?

Siapa yang mengakibatkan Kontur tanah di Jakarta 25 cm/tahun.?

Siapa yang menyedot air dari dalam tanah tanpa manejemen air dan melanggar peraturan.?

Mengapa Balita dan rumah sederhana warga yang harus dikorbankan tanpa ganti untuk kerugian..?

 

Jelang tidur dalam belaian embun, Pertanyaan yang sama menghantui nelayan kita dipasar Ikan, saudara kita dikolong tol kalijodo, Rawajati, bukit duri dan tempat lain di wilayah Jakarta yang menjadi korban penggusuran. Mereka berteriak dalam kebisuan malam yang sepi dan menangis tanpa tetesan air mata sebagai pengganti cucuran keringat bertahun-tahun dengan harapan memproleh hak keperdataan kewarga negaraan dalam berbangsa dan bernegara.

Beranjak dari sana coba kita alihkan ingatan kita pada gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan Merek RUMAH SUSUN SEWA. Dengan Konsep menata keatas untuk menutupi kerugian 110, 2 terilliun/ Tahun dan Warga Korban gusuran sebagai pelanggan tetap seumur hidup, dalam posisi kontur tanah yang amblas 25 cm / Tahun. Sekali lagi kita bertanya Siapa yang berbuat..? siapa yang dirugikan.? dan Siapa Yang dikorbankan dan kambing hitamkan.?

Kemudian coba kita baca lagi peraturan yang ada mulai dari UU Agraria, UU Pengadaan Tanah Untuk menjalankan Rancangan Tata Ruang, UU Tata Ruang dan PERDA DKI. Semuanya mengamanatkan KONSEP ganti kerugian dalam bentuk Uang atau Tanah ganti tanah dan Rumah ganti Rumah. Lantas mari kita coba bayangkan dan tanyakan :

 

Mengapa Kinerja Yang dijalankan PEMDA DKI, GEBUK, GUSUR, PINDAHKAN KERUMAH SUSUN SEWA DAN TAGIH UANG SEWA..?

Siapa Yang diuntungkan dan dikorbankan.?

Apa target mereka yang diuntungkan di pilkada DKI.?

Jelang malam saat penguasa hari bersandar diufuk barat, tiupan angin berhembus bersama bintik air menemani setiap jiwa-jiwa yang gelisah tua dan muda. Ingin berteriak namun kegelisahan membungkam bisu. Namun tetaplah tersirat dalam guratan wajah yang gundah ditengah negeri yang merdeka. Isyarat yang tersirat dalam guratan wajah-wajah gelisah mengungkap persoalan pada helai kertas kosong :

 

1.      Banjir

Dalam bahasa alam bukanlah persoalan individu atau pun sekelompok masyarakat Jakara, namun merupakan persoalan bersama yang tidak bisa menyalahkan sekolompok orang, terutama saudara kita yang tinggal dibantara kali ciliwung. Kerena perlu kita sadari jumlah penduduk yang banyak dan tinggal disatu wilayah yang tidak terlampau luas mengakibatkan jumlah besaran air yang tersedot dari dalam tanah untuk kebutuhan hidup berdampak pada postur kepadatan tanah yang menimbul banjir.  Akan tetapi Persoalan bersama dalam sejarah Nusantara harus diselesaikan secara bersama-sama dengan semangat gotong royong.

2.      Rumah Hunian

Setiap kita tentunya merasakan fungsi vital rumah sebagai kebutuhan dasar dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara. Yang tentunya dalam menyelesaikan persoalan bersama, tidaklah mungkin sebagian dari saudara kita terampas kebutuhan dasar hidupnya dengan memindahkannya ke rumah susun sewa dan menjadikan mereka sebagai pasar serta pelanggan rumah susun.

3.      Kehidupan sosial

Dalam proses perjalan hidup melintasi batas-batas waktu saudara kita yang tinggal dibataran kali ciliwung selama betahun-tahun, secara turun-temurun tentunya sudah membentuk komunitas persaudaraan dengan budaya yang mengikat antar tetangga dan warga. Yang jika kita memindahkan mereka menjadi pasar dan pelanggan rumah susun sewa akan terampas dan hilang.

Pesan-pesan itu tersirat dalam guratan-guratan kegelisahan wajah saudara kita yang ada disana, dimasa lampau ketika semangat gotong royong kita masih membara didalam sanubari dalam menyelesaikan persoalan bersama. Kita akan bergotong royong menyediakan pemukiman yang baru dan memindahkan saudara kita kepemukiman barunya.

Namun kini dalam hal menyelesaikan persoalan bersama, kita berharap kepada pemerintah untuk dapat menyelesaikan persoalan kita bersama dengan ketentuan peraturan dan perundangan yang telah kita rumuskan bersama sebagai kekuasaan negara yang melindungi segenap tumpah darah.

Akan tetapi  membuat kita terheran-heran, pemerintah DKI yang kita harapkan mejalankan peraturan dan perundangan itu tidak mejalankan harapan kita, malah membuat aturan seenaknya, menebar fitnah dan mendiskreditkan saudara kita yang tinggal dibantaran kali ciliwung. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s