Oleh : Batara R Hutagalung

Benar, Cina tak memiliki sejarah kolonialisme, yaitu penguasaan fisik terhadap negara atau bangsa lain.  

Sekarang juga tidak diperlukan penguasaan wilayah Negara lain seperti sistem kolonialisme secara klasik, melalui perang konvensional. Bahkan kolonialisme klasik terlalu high cost.

Di era Perang Asimetris (Asymmetrical Warfare) dengan perkembangan global sekarang, maka RRC sangat bodoh apabila tidak ikut “bermain.” Yang telah lama ditengarai oleh kelompok sosialis/Marxis, yaitu di phase terakhir dari kapitalisme adalah oligarchi keuangan (finance oligarchy) yang mengatur dunia. 

Di Eropa pada waktu itu dikenal teori yang dinamakan Kapitalisme Monopoli Negara (Bahasa jerman: Staatsmonopolistischer Kapitalismus – Stamokap), yang sekarang actual kembali di Eropa. (Mungkin Boni Hargens pernah membacanya di Jerman). 

Oligarchi keuangan ini merupakan peleburan dari kapital (modal) perbankan dan kapital industri. 
Di era Perang Dingin, untuk membuat Negara-negara berkembang tergantung dan patuh kepada Negara-negara barat, diberikan dana pinjaman yang berlimpah kepada Negara-negara berkembang, yang mengakibatkan Negara-negara peminjam menjadi terjerat utang. 

Di tahun 70-an telah disadari adanya yang dinamakan Odius debt (Utang najis), karena ternyata utang yang diberikan, sebagian dimakan (dikorup) oleh para petinggi Negara peminjam. Jumlah yang dikorup mencapai lebih dari 30%. 

Dan hal ini diketahui, bahkan dengan sepengetahuan Negara-negara pemberi pinjaman. 
Di tahun 70-an, majalah Der Spiegel di Jerman telah mengungkap praktek-praktek ini. 

Yang pertamakali secara gambling menulis praktek ini adalah John Perkins, yang tahun 2004 menuli buku dengan judul “Confessions of an Economic Hit Man” (Pengakuan seorang pembunuh ekonomi). Di dalam bukunya, dia juga menulis praktek yang telah dilakukannya di Indonesia. 

Di sistem oligarchi keuangan ini, export kapital (modal) lebih penting daripada export barang. 

Kalau ingin mengejar ketertinggalan di bidang export barang, Cina mungkin masih memerlukan waktu belasan tahun, bahkan puluhan tahun, karena susah untuk menyaingi kualitas barang-barang Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. 

Namun dengan akumulasi kapital yang dimilikinya, yaitu mungkin dengan cadangan devisa terbesar di dunia, maka Cina memainkan kekuatannya di sini.

Jadi tidaklah heran, Indonesia dengan pasar  besar (250 juta penduduk), tentu menjadi incaran Cina untuk membanjiri dengan kapital. 

Seiring dengan pemberian kapitalnya, tentu diikutsertakan para pekerjanya untuk menggarap proyek-proyek yang dibiayai dengan kapital dari Cina. 

Menarik kapital dari Negara-negara barat lebih susah daripada menarik kapital dari Cina.  
Di Negara-negara barat, pemilik capital adalah individu atau konsorsium.  

Sedangkan untuk menarik kapital dari Cina, cukup bertemu dengan beberapa petinggi Partai Komunis Cina. 

Praktek yang dijalankan pemerintah Komunis Cina tidak berbeda dengan praktek kapitalisme. 

Bedanya, di sistem kapitalisme klasik, kapital ada di tangan privat. Sedangkan di kapitalisme Cina, kapital ada di tangan Negara. Tetapi intinya sama: Kapitalisme adalah kapitalisme, baik dilakukan oleh privat maupun oleh Negara (Cina).

Keduanya mencari untung sebesar-besarnya. Jadi, tidak diperlukan kolonialisme bentuk klasik. Inilah bagian dari perang asimetris. Demikian pendapat saya. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s