Festival Budaya Bumi Merti Wonokerto
Festival Budaya Bumi Merti Wonokerto

Sleman – Pagi itu (Minggu 23 Oktober 2016) matahari yang perlahan meninggi seolah menyapa kedatangan bapak-bapak dan ibu-ibu di Balai Desa Wonokerto.

Di satu sisi, mereka bertindak sebagai pengisi stand di acara Wonokerto Expo yang sudah berjalan sejak seminggu lalu. Di sisi lain, mereka yang dengan rapi mengenakan baju adat jawa, berkumpul di Balai Desa dengan raut wajah ramah untuk melangsungkan upacara adat Merti Bumi Kenduri Pohon Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman, DIY.

Upacara Merti Bumi sekaligus dijadikan sebagai acara puncak dari Wonokerto Expo 2016. Merti Bumi seolah menjadi magnet tersendiri agar berbagai golongan usia berbondong menuju Balai Desa. Tidak hanya bagi pihak “internal” Desa Wonokerto, akan tetapi juga bagi masyarakat umum yang hendak menyaksikan jalannya upacara yang diadakan setahun sekali. Upacara ini pun dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti Pakualaman X, Wakil Gubernur DIY, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, serta aliansi Jurnal Indonesia.

Melestarikan Bumi Lewat Merti Bumi

Merti Bumi yang berarti “Merawat Bumi”, merupakan upacara warisan leluhur yang digelar sebagai bentuk pelestarian terhadap bumi. Disamping itu, upacara Merti Bumi juga dijadikan sebagai simbol manifestasi rasa syukur kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan.

Upacara ini dilangsungkan di Dusun Tunggularum yang merupakan dusun di sisi barat Gunung Merapi. Merti Bumi yang puncaknya nanti digelar penanaman pohon di Tunggularum, merupakan salah satu upaya menjaga ketersediaan mata air di kawasan lereng Merapi.

Pohon-pohon yang ditanam nantinya dapat menahan erosi, menyimpan air, dan menahan banjir jika sewaktu-waktu hujan deras mengguyur puncak gunung. Upaya penyelamatan sumber mata air ini tak hanya dilakukan semata-mata untuk kebaikan Desa Wonokerto saja, akan tetapi juga untuk masyarakat Yogyakarta pada umumnya. Sebab sumber mata air di Yogyakarta juga berhilir di kawasan ini.

Acara ini diikuti oleh 13 padukuhan, dimana setiap padukuhan membawa nasi tumpeng serta bibit tumbuhan khususnya buah-buahan seperti jambusari dan kepel. Hasil bumi yang dibawa oleh masyarakat disusun seperti nasi tumpeng dan dipikul oleh para pemuda.

Walaupun hujan deras sempat mengguyur di sela acara, akan tetapi hal itu tak menurunkan semangat dan antusiasme masyarakat Desa Wonokerto untuk tetap menggelar penanaman dan penghijauan desa.

Selain melakukan penghijauan di Dusun Tunggularum, terdapat pula sumbangan bibit nyamplung dari pemerintah setempat dimana 1 rumah diberi 5 bibit nyamplung. Melalui “nyamplungisasi” tersebut pemerintah berharap selain untuk melindungi masyarakat dari bencana alam.

Tak Hanya untuk Lingkungan, Tapi juga Budaya

Diadakannya Upacara Merti Bumi yang berlangsung setiap Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, tak hanya sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. Sebagaimana upacara adat lainnya, upacara adat Merti Bumi juga memiliki tujuan untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian masyarakat Desa Wonokerto.

Diadakannya Upacara Merti Bumi sendiri menjadi salah satu bentuk pelestarian terhadap kebudayaan daerah. Disamping itu, rangkaian upacara adat Merti Bumi pun sangat erat kaitannya dengan kesenian yang juga menjadi aset kebudayaan setempat.

Acara dimulai dari persiapan arakan dari Dusun Tunggularum yang kemudian berjalan bersama menuju Tunggul Lawas. Saat di Tunggul Lawas, arakan kemudian berjalan ke sebuah lapangan sekaligus padepokan yang dijadikan sebagai tempat untuk melaksanakan upacara.

Kedatangan arakan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dan lagu Desaku yang Kucinta. Usai menyanyikan dua lagu tersebut, acara dilanjutkan dengan berdoa dan bersholawat dengan khidmat secara bersama-sama.

Penyambutan terhadap tamu undangan pun tak lupa untuk dilakukan dalam rangkaian acara ini. Seusai rentetan acara formal tersebut, masyarakat lalu berebut tumpeng atau gunungan hasil bumi yang telah mereka bawa sebelumnya.

Salah satu yang menjadi bentuk pelestarian budaya dalam upacara merti bumi adalah dengan disuguhkannya kesenian daerah seperti jatilan, ketoprak atau wayang, dan kubro siswo.

Selain sebagai pengisi acara, diharapkan kesenian daerah ini dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas utamanya generasi muda agar tetap eksis ditengah arus globalisasi seberti saat ini. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s