Jakarta – Ballroom Nyi Ageng Serang mulai ramai sejak Senin pagi (5/12/2016) oleh para peserta dialog publik bertemakan “Perempuan Memilih: dari, oleh dan untuk perempuan Jakarta”. Acara yang dilaksanakan dalam rangka peringatan 100 tahun Adam Malik Center tersebut mengundang lebih dari 500 organisasi/lembaga, termasuk LSM, Kowani, Perwari, Ormas hingga mahasiswa. Menjelang siang, kehadiran Anies Baswedan sebagai salah satu keynote speech berhasil menyedot perhatian para peserta dialog.

Sebelum menyampaikan visi-misinya sebagai Calon Gubernur Jakarta, Anies bercerita proses ia tumbuh di lingkungan perempuan luar biasa, yaitu neneknya yang merupakan anggota Kowani saat itu. Nenek Anies pernah bercerita bahwa sebagai utusan Tegal, ia sempat dilarang untuk menghadiri kongres di Jogja. Kereta api sebagai sarana transportasi ketika itu dilarang oleh Belanda untuk mengantarkan para anggota Kowani. 

Akhirnya, nenek Anies bersama para perempuan saat itu memilih berbaring di rel kereta depan lokomatif. Aksi tersebut menyebabkan kereta tidak bisa berangkat. Sampai akhirnya diizinkan untuk ikut kongres.

“Saya telah menyaksikan dan mendengar langsung bagaimana dahsyatnya perempuan. Ketika di rumah, ia berperan sebagai ibu. Ketika di luar, ia sebagai warga dan bagian (aktif) di masyarakat,” terang Anies membuka sambutannya.

Anies menekankan bahwa ketika perempuan lemah, maka urusan lainnya akan lemah dan begitupun sebaliknya. “Di Indonesia, pada dasarnya perempuan mempunyai peran besar. Maka, kita akan kembalikan hal itu. Insya Allah jika dapat terjadi di Jakarta, efeknya akan ke seluruh indonesia,” tegas Anies.

Di hadapan lebih dari 100 orang yang menghadiri diskusi tersebut, mantan Rektor Paramadina ini menyampaikan salah satu program unggulannya yaitu “Memuliakan perempuan Jakarta”. Program ini menjanjikan situasi yang kondusif dan ramah keluarga baik di sektor swasta maupun publik. “Kantor pemda, kantor swasta, kalau ingin kantornya maju, maka buat suasana yang ramah perempuan dan keluarga,” imbuh Anies.

Melalui pendekatan berbasis gerakan, penggagas Gerakan Indonesia Mengajar ini menuturkan tidak akan membawa pendekatan program untuk perempuan ibukota. Pendekatan program selama ini hanya menekankan pada aktif dan bekerjanya pemerintah. 

Sebaliknya, pendekatan gerakan berusaha mengajak para elemen berbasis masyarakat, termasuk lembaga dan organisasi perempuan, untuk berpartisipasi aktif membangun Jakarta. 

“Pemerintah tidak perlu bergaya melakukan semuanya. Lembaga dan organisasi perempuan yang akan bergerak dan pemerintah bekerja sama, memfasilitasi,” ujar Anies.

Di hadapan peserta diskusi, Anies menutup sambutannya dengan kembali menekankan filosofi yang dibawanya yaitu kerja sama. 

“Dengan demikian, kita akan memajukan Jakarta melalui gerakan pemberdayaan masyarakat lewat perempuan,” tutup Anies yang disambut tepuk tangan para peserta diskusi.

Reporter : Muhammad Nur Rahman

Editor : Parlin Siagian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s