Jakarta – Penggusuran menjadi momok yang menakutkan bagi warga ibukota. Dalam berbagai media, terdapat lebih dari 300 titik yang direncanakan akan dilakukan penggusuran atas nama tata ruang kota. Sayangnya, kebijakan ini tidak sedikit menuai protes dan permasalahan, khususnya bagi warga yang memiliki sertifikat tanah maupun hak milik lengkap dan telah tinggal belasan bahkan puluhan tahun di tempat tersebut.

Salah satunya Sopinah (56) yang memiliki tanah berikut rumah di Jalan Tanggul, Semanan, Kali deres, Jakarta Barat. Perempuan berkerudung ini mengaku sebelumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan dari penghasilannya berhasil membeli rumah yang berada di pinggir kali Mookevart. Sungai Mookevart yang berada di sepanjang jalan Daan Mogot ini sendiri ditenggarai menjadi sumber banjir di beberapa titik Jakarta. 

Supinah yang saat ini berjualan nasi uduk dan aneka kue di tanah bekas rumahnya mengaku telah tinggal di daerah tersebut sejak tahun 1990an. “Dan saat 2014 itu digusur dan ada bulldozer di sini,” ujarnya dengan mata menerawang. 

Curhatan Supinah tersebut disampaikan langsung kepada Anies Baswedan saat Cagub bernomor urut 3 ini mengunjunginya, Senin (26/12/2016). Anies yang menikmati segelas teh manis hangat dari Sopiah terlihat serius melihat fotocopy dokumen-dokumen resmi terkait hak milik dan status tanah dari Supinah. 

Mantan Menteri Pendidikan ini mengaku akan menerima dokumen tersebut sebagai bentuk aspirasi warga.

Kepada awak media, Anies kembali menegaskan akan mewujudkan dan mengembalikan keadilan yang seolah hilang di Jakarta. “Kita akan menghentikan kesewenangan yang terjadi selama kurun 2 tahun terakhir ini,” ujar Anies. 

Dalam beberapa kesempatan, Anies memang menaruh perhatian khusus atas penggusuran yang terjadi di Jakarta. Ia bahkan menekankan pentingnya moratorium atas semua titik penggusuran. “Kita harus mempelajari satu-satu. Karena yang seharusnya dilakukan adalah peremajaan kota. Menata ulang ruang dan wilayah. Bukan dengan penggusuran seolah yang dipindahkan adalah benda mati,” papar Anies di suatu forum.

Peristiwa yang Supinah alami menjadi salah satu bukti bahwa penggusuran di Jakarta menuai bermasalah. Supinah mengaku tidak mendapatkan ganti rugi dan sosialisasi yang cukup baik atas penggusuran yang dialaminya. Sertifikat tanah yang telah dikeluarkan sejak tahun 1984 miliknya seolah tidak berarti. 

Kegiatan berjualan yang dijalankannya saat ini merupakan bentuk perjuangannya dalam menuntut keadilan. “Saat ini saya berjualan di (tanah) bekas rumah saya. Tadi saya sudah serahkan semua (fotocopy) dokumen ke pak Anies agar bisa diperhatikan,” ujar Supinah.

Reporter : Muhammad Nur Rahman

Editor : Parlin Siagian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s