Warga Fakir Miskin
Warga Fakir Miskin
Oleh : Akhmad Solihin

Assalamu’alaikum handai taulan, berbagi cerita, berbagi pengetahuan, bertukarpikiran, berbagi cara merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi sebuah kaum untuk saling asah, asih dan asuh. Kalaupun ada sebuah khilaf atau sakwasangka yang terselip baik dari yang tertulis maupun dari yang di maknakan, di haturkan maaf yang sedalam-dalamnya. Adapun apabila ada manfaat yang bisa didapat dari yang disampaikan, sesungguhnya untuk kebaikan bersama. Setiap kesalahan pada penulisan ada pada saya (penulis) dan setiap kebenaran adalah milik masyarakat yang memberikan penilaian atas baik buruknya sebuah keadaan.

Acap kali kita menemui kenyataan dalam kehidupan, bahwa untuk sekedar bertahan hidup begitu sulit, hingga tidak sedikit kita menemui fakta-fakta kehidupan, gelandangan, papa dan fakir mengais rezekinya hanya untuk sekedar bertahan hidup. Sebagai kalangan yang memiliki pengetahuan untuk bangkit menghadapi kesulitan, tentunya kalangan tersebut, terang benderang, memiliki kewajiban untuk mensyiarkan cara-cara sederhana yang mudah untuk dilakukan bagi gelandangan, papa dan fakir agar bangkit dari keterpurukan hidup.

Yang mesti diketahui sebelum masuk ke inti persoalan tentunya dikenali siapa yang disebut dengan gelandangan, papa dan fakir, sehingga kita memiliki tujuan yang tepat sasaran untuk memperbaiki nasib para gelandangan, papa dan fakir, sebab kitapun perlu menginsyafi sebuah kenyataan bahwa nasib suatu kaum merupakan kewajiban bagi kaum tersebut untuk berjuang atas kemaslahatan hidupnya.

1. Gelandangan.
Sebuah fakta kehidupan bahwa rakyat gelandangan, memiliki konotasi tak memiliki atap untuk berteduh, tembok untuk bersandar dan lantai untuk beristirahat yang biasa disebut dengan rumah. Konotasi gelandanganpun memiliki berbagai varian penyebab, diantaranya, seseorang atau sekelompok orang yang memang mengalami kesulitan untuk memiliki rumah disebabkan ketidakmampuannya untuk memiliki rumah, baik secara keuangan maupun secara kesempatan (pengangguran). Adapun varian berikutnya adalah seseorang atau sekelompok orang yang memang sengaja untuk hidup menggelandang, memiliki interdependensi sebagai insan dan ikhsan yang beratapkan langit, beralaskan tanah dan bersandar pada biota air sungai yang mengalir ke samudera. Kemudian varian yang berikutnya adalah kebangkrutan secara politik, sosial dan ekonomi, gelandangan dengan varian ini, pada awalnya hidup berkecukupan namun diakibatkan kondisi baik yang terjadi dari dalam diri atau kelompoknya (internal) atau kebangkrutan yang terjadi dari luar diri dan kelompoknya (eksternal) yang diakibatkan oleh situasi dan kondisi lingkungan atau bangsanya yang menghadapi krisis multidimensi. Keadaan gelandangan biasa disebut dengan tuna grahita.

2. Papa.
Kelompok papa adalah sebuah golongan masyarakat yang tak memiliki kemampuan untuk berkarya, bekerja atau produktif. Varian penyebabnya diantaranya adalah keterbelakangan mental, cacat fisik atau sudah memasuki usia senja. Tentunya untuk kelompok masyarakat seperti yang disebutkan ada perlakuan khusus yang diterapkan. Keadaan papa adalah sebuah situasi bahwa sekelompok masyarakat memang telah mencapai siklus kehidupan yang alamiah secara fisik maupun mental, bukan merupakan sebuah kelemahan atau penyakit yang mesti dianggap sebagai beban masyarakat, justru agar sebuah kaum memiliki kelompok papa yang sejahtera dan berkecukupan merupakan sebuah kerja kemanusiaan yang memang layak untuk diperjuangkan. Keadaan papa biasa disebut dengan tuna daksa.

3. Fakir.
Fakir merupakan sebuah situasi dan kondisi ketiadaan, golongan fakir merupakan kelompok masyarakat yang tak memiliki apa-apa untuk kelangsungan hidupnya. Biasa dikenali sebagai pengemis, pengamen, anak jalanan, pekerja serabutan, budak yang tak memiliki hak, yatim piatu yang tak memiliki pengasuh dan tempat untuk berteduh, serta anak terlantar. Keadaan fakir biasa terjadi disebabkan oleh beberapa varian, diantaranya adalah ketidakmampuan sekelompok fakir untuk berpengetahuan, misalnya tidak bisa membaca dan menulis (tuna aksara), tidak mampu melihat warna (buta warna) dan tidak mampu berhitung, tidak memiliki kemampuan untuk berhitung, sehingga tidak memiliki pengetahuan atas apa haknya dan atas apa kewajibannya berakibat pada ketidakmampuan untuk nalar sebagaimana manusia biasanya. Yang berujung pada hidup berputar dari satu kemalangan ke kemalangan yang lainnya atau yang biasa disebut oleh masyarakat, kondisi miskin atau dhuafa.

Ketiga kelompok masyarakat seperti yang disampaikan diatas, untuk mampu keluar dari nasibnya membutuhkan setidaknya beberapa hal untuk mampu mencapai kebangkitan, diantaranya adalah :

1. Keyakinan yang berproses pada itikad, berujung pada tekad dan melahirkan sebuah kehendak.

Hal pertama yang mesti dimiliki suatu kaum untuk bangkit dari keterpurukan adalah sebuah keyakinan untuk mencapai kehendak agar mampu keluar dari kesulitan hidup. Baik secara mandiri maupun secara berkelompok mesti memiliki keyakinan untuk dapat hidup makmur dan sejahtera. Keyakinan adalah pokok, untuk disemai, untuk ditanam, untuk dituai oleh masyarakat agar bisa bangkit dari keterpurukan. Dengan adanya kehendak, mandiri atau sekelompok masyarakat mampu bergerak untuk membuka keterbatasannya menjadi sebuah ruang bagi diri dan kelompoknya untuk berusaha, berupaya dan bekerja, bagi diri dan kelompoknya serta manfaat bagi masyarakat yang menggunakan hasil dari jerih payahnya.

2. Wawasan atau apa yang diketahui, yang bisa, dan yang mampu dikerjakan.

Hal kedua yang harus dimiliki oleh sekelompok masyarakat untuk bangkit adalah beranjak dari yang biasa dilakukan dengan mudah, pengetahuan yang sederhana namun mampu memberikan manfaat. Berikan kemudahan bagi diri dan kelompok untuk saling berbagi apa yang bisa dilakukan, memberikan kemudahan kepada kehidupan mendatangkan kemudahan lainnya, begitu seterusnya, atau yang biasa disebut di masyarakat welas asih, saling memberi kasih sayang kepada sesama. Bersikap lembut kepada kehidupan, mendatangkan peluang dan kesempatan yang dengan sendirinya datang, dari berbagai arah yang tak terduga-duga. Dengan memiliki kemampuan bersikap lembut kepada kehidupan, maka kerasnya aral yang melintang dalam kehidupan bisa dilalui dengan mudah, kekecewaan akan kegagalanpun takkan ada, karena yang dilakukanpun mudah dan mampu dijangkau dengan cara-cara mudah dan sederhana.

3. Kemampuan untuk mempertajam, mengembangkan, memperdalam dan merawat pengetahuan sederhana yang dimilikinya.

Hal ketiga yang harus dimiliki sekelompok masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan adalah kemampuan untuk mempelajari sendi-sendi pengetahuannya, karena setiap sisi atau setiap hal-hal kecil dari pengetahuannya merupakan sebuah nilai tambah yang mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya, bagi kelompoknya dan bagi masyarakat yang berbuah kemaslahatan.

4. Perkenalkan cara dan kemampuan untuk mampu melakukan sesuatu secara mandiri dan secara kelompok.

Hal keempat yang mesti dimiliki untuk kaum agar bangkit dari keterpurukan adalah kemampuan untuk bekerja secara mandiri dan bekerjasama antar pribadi maupun antar kelompok. Kelompok masyarakat yang terpuruk memiliki kecenderungan asusila, kebobrokan mental, keruntuhan kepribadian dan penistaan terhadap karakternya sendiri. Asusila dalam hal ini tak mesti selalu berkaitan dengan kecenderungan porno atau tindakan kekejaman seksual, namun asusila bisa disebutkan dengan tidak mengetahui kecenderungan masyarakat untuk berbaur, tidak memiliki pengetahuan untuk mengetahui nilai dasar yang terkandung antar pribadi dan antar kelompok. Berakibat kepada resistensi masyarakat atau lingkungan terhadap dirinya dan kelompoknya. Dengan memperkenalkan cara dan kemampuan untuk bekerjasama maka kaum yang sedang mengupayakan kemaslahatan mampu beradaptasi dan membaur diantara sekat-sekat yang samar namun ada di tatanan masyarakat.

5. Perluas kehidupan, sederhanakan cara, perbanyak manfaat, berikan pertolongan, munculkan kebiasaan rasa cukup dan bersyukur.

Hal kelima yang mesti dimiliki oleh kaum atau kelompok yang sedang terpuruk untuk bangkit adalah pengetahuan untuk mengetahui luasnya ruang lingkup yang mampu dicapai oleh dirinya atau kelompoknya agar memperoleh kemudahan untuk menentukan cara. Kaum yang dalam kesulitan dan terpurukpun mesti diberikan sebuah pengertian, bahwa dalam keadaan tersulit dalam kehidupanpun, kaum memiliki kemampuan untuk bermanfaat dan memberikan pertolongan. Sedangkan sebuah kaum yang terpuruk untuk bangkitpun mesti memiliki pengetahuan untuk merawat rasa cukup dan bersyukur. Untuk mencegah keserakahan dan ketamakan yang muncul akibat kurangnya pengetahuan.

Maka kita masuk ke dalam inti persoalan, cara sederhana apa yang mesti di tempuh oleh kaum yang terpuruk untuk mampu bangkit memperbaiki nasibnya. Banyak cara bisa ditempuh oleh suatu kaum untuk memperbaiki taraf hidupnya mencapai kemaslahatan, namun sebagai sebuah entitas kemasyarakatan, kita dihadapi oleh beberapa kenyataan yang sebenarnya bukan sebuah tantangan kehidupan, keadaan yang sesungguhnya diperuntukan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan, yaitu tata kelola sebuah bangsa yang disebut dengan Negara yang memiliki birokrasi dan administrasi yang sebenarnya bukan sebuah beban, namun lebih pada cara Negara memperlakukan rakyatnya dalam entitas kemasyarakatan dan kebangsaan.

Merupakan sebuah kenyataan yang biasa ditemui dalam keseharian, ketika rakyat melakukan kerja dan upaya untuk kemaslahatan dirinya, Negara memiliki kecenderungan untuk melakukan penataan bagi rakyat yang sesungguhnya pula untuk ketenteraman rakyat. Namun seringkali ditemukan keadaan Negara melakukan penertiban yang menggunakan tindakan represif kepada rakyatnya, sehingga tidak hanya menyakiti perasaan rakyat, namun juga menyakiti secara fisik rakyat.

Kontradiksi sosial kemasyarakatan yang seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari rakyat, menjadi sebuah penindasan dan kekerasan tersendiri di tatanan masyarakat. Tidak hanya tindakan Negara kepada rakyatnya dan perlawanan rakyat kepada Negaranya, namun seringkali terjadi antar sesama rakyat, seperti tindakan kejahatan kriminal, pencurian, perampokan, penipuan dan pembegalan yang terkadang luput dari perhatian, juga pengabaian atas krisis sosial kemasyarakatan yang terjadi terhadap sesama rakyat.

Cara sederhana yang harus dilakukan bagi kaum yang terpuruk, tertindas, teraniaya untuk bangkit mencapai kemaslahatan adalah :

1. Jangan Bungkam dan Jangan Diam.
Bagi kaum yang memiliki kehendak untuk mencapai kemaslahatan adalah bertindak untuk memperbaiki nasibnya. Lakukan segala daya upaya terbaik dari hal-hal sederhana yang bisa dilakukannya, sehingga menghasilkan bagi kehidupannya. Penghasilanpun jangan hanya dibatasi dengan materi, uang, ataupun kebendaan, memiliki sebuah perkenalan dan pertemanan dengan sesama kaum yang sedang berjuang bagi kemaslahatannya pun merupakan penghasilan berupa pengetahuan yang mampu di petik untuk usaha dan kerja bagi kaumnya untuk memperbaiki nasibnya. Jangan bungkam, menyampaikan gagasan, bercerita tentang cara-cara yang pernah dilakukan, baik keberhasilan dan kegagalan untuk berbagi pengetahuan kehidupan sehari-hari kepada sesama kaum yang sama-sama berjuang bagi kemaslahatan untuk memiliki kebutuhan bersama untuk berjuang bagi perbaikan nasibnya. Sampaikan pula kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi pada dirinya dan sampaikan pula kebenaran-kebenaran cara yang mampu di capai. Dapat dimaklumi bahwa kaum yang dalam keadaan terpuruk terkadang memiliki kesulitan membuat rencana, kalaupun mampu membuat rencana terkadang gagal, namun disinilah pentingnya sebuah keyakinan dimana rencana merupakan bagian dari cara sederhana untuk mencapai kemaslahatan, dan merupakan pengetahuan sederhana yang mampu dilakukan dengan mudah oleh akal meski dalam keadaan terdesak, emosional, kemalasan, panik, jengkel serta sifat-sifat manusiawi lainnya.

2. Bentuk Konektivitas.
Sebagai sesama kaum yang memperjuangkan nasibnya, bangun dan bentuk cara sederhana yang bisa dilakukan secara mandiri maupun berkelompok, tempatkan pengetahuan atas cara sederhana yang mampu dilakukan oleh suatu kaum sebagai langgam bersama dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan, jauhkan diri dari ke khawatiran dengan mempersiapkan pengetahuan yang sederhana untuk mencegah kemudharatan terjadi yang berasal dari dirinya dan kelompoknya. Contoh : sebagai seorang penulis puisi memiliki cara sederhana untuk mengantisipasi keburukan terjadi dari tulisan yang dibuatnya, sehingga meskipun sebuah keburukan tetap saja terjadi akibat tulisan puisi yang dibuatnya, penulis puisi mengetahui apa yang mesti dilakukan untuk meredakan ke khawatirannya, sebab seorang penulis puisipun menginsyafi sebuah kenyataan takdir yang bukanlah kemampuannya untuk dihindari. Dengan konektivitas tersebut sesama kaum yang sedang memperjuangkan kemaslahatannya bersama-sama memiliki pengetahuan untuk berjuang dan menghadapi pahit getirnya kehidupan dengan lembaran puisi sederhana yang mampu dibuat. Cara sederhana seperti inipun mampu dilakukan untuk beragam kerja dan usaha, sehingga tak ada sebuah keraguan ketika melakukan kerja-kerja untuk kemaslahatan.

3. Pastikan langkah, tujuan, tindakan yang mesti dilakukan.

Bagi kaum yang terpuruk dalam kenyataan hidup, untuk memperjuangkan kemaslahatannya memiliki kecenderungan untuk kebingungan, panik, tergesa-gesa, ke khawatiran ketidakpastian hari esok, ketakutan yang muncul dari tidak memiliki pengetahuan untuk menemukan hasil dari kerjanya. Kehidupan pada fitrahnya lurus, apabila mesti berbelok, beloklah, apabila mesti menanjak, menanjaklah, apabila mesti menurun, turunlah; untuk memperjuangkan suatu kaum yang memperjuangkan kemaslahatan bagi kaumnya, lakukanlah; sebagai sebuah kaum, tentunya hal-hal sederhana seperti memilih yang baik dan yang tidak baik bagi kaumnya juga merupakan sebuah cara untuk mendapat hasil dari kerjanya.

Untuk kaum yang dalam keadaan terpuruk tentunya butuh alat untuk memperbaiki nasibnya, namun perlu diinsyafi bersama bahwa yang ada di tubuhnyapun sudah merupakan alat untuk memperbaiki nasibnya. Jangan khawatir apabila dikatakan kerja bermodal dengkul, makan gaji buta, penjilat, penjual ayat, pengemis, pemulung atau sindiran-sindiran lainnya. Sebab pengetahuan itu sendiripun sudah merupakan kerja, jangan kecilkan usaha dan kerja kaum untuk bisa bertahan hidup dengan pikiran-pikiran sempit. Sebab kaum yang sedang dalam keadaan terpuruk punya hak juga, meskipun kaum tersebut tak memiliki pengetahuan untuk mengenal dan mendapatkan hak-haknya.

Khusnuzon di haturkan kaum berjuang, pantang surut layar terkembang. Rawe-rawe rantas malang malang putung. Hidup menjadi hidup bersama guyub, punakawan, handai taulan, sedulur. Hatur nuhun.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s