Ilustrasi Warga Jakarta
Ilustrasi Warga Jakarta

Di Jakarta dapat kita temui pemukiman masyarakat sederhana yang kepadatan penduduknya cukup memprihatinkan, gang-gang sempit dan rumah-rumah yang berhimpit-himpit satu sama lainnya. Pemandangan seperti ini jamak di ibukota DKI Jakarta, setidaknya di lima wilayah Jakarta terdapat ratusan kawasan seperti ini. Tak heran apabila ada julukan bahwa Jakarta adalah kampung besar. Sebagai sebuah warisan planologi tata kota, Jakarta yang sudah terbentuk ratusan tahun, sebenarnya banyak dari pembangunannya yang melenceng dari perencanaan tata kota. Urbanisasi masyarakat daerah yang masif sejak tahun 1980an sampai abad millenium ini berdampak pada kehidupan masyarakat yang bersesakan dan berdesakan.

Fenomena Ibukota ini menyebar ke wilayah-wilayah di sekitarnya, seperti Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok, biasa disebut dengan kota satelit ibukota Jakarta, yang membentuk sebuah kawasan tersendiri yaitu Jabodetabek. Setidaknya pertumbuhan masyarakat di Jakarta dan sekitarnya membentuk sebuah labirin kota yang semrawut. Banyak persoalan tentunya yang dihadapi Jakarta beserta penduduknya, mulai dari persoalan sosial dimana sesaknya masyarakat ibukota mengakibatkan kemacetan yang kronis, tumpukan sampah yang masif, standart kesehatan yang rendah, rumah-rumah yang tak layak huni, sistem sanitasi yang buruk, hingga sampai pada psikologi rumah tangga yang rentan konflik diantara masyarakatnya.

Pendidikan mentereng dan karir cemerlang, namun masa depan suram.

Gambaran situasi yang memprihatinkan tersebut tersebar dipelosok-pelosok Jakarta, dan setidaknya ini terlihat dari kondisi kehidupan pasangan suami-istri Indra Bakti (62) dan Kasmanelly (57), memiliki 3 orang putri, Sinta (30), Ria (28) dan Hanny (26). Sebagai sebuah keluarga sebenarnya Indra Bakti bukanlah kepala rumah tangga yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sehingga tak mampu untuk hidup layak, Indra Bakti merupakan sosok yang sangat berprestasi di sekolah dasar hingga menengah bahkan mengeyam pendidikan tinggi di tahun 1970an, dimana pada saat itu mungkin tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan tinggi seperti dirinya. Ia adalah seorang lulusan Akademi Industri Militer Pindad yang kemudian disebut Akademi Industri Logam, Bandung ketika berubah menjadi sekolah umum, lulus tahun 1977. Dalam masa produktif profesionalnya, ia merupakan warga ibukota yang memiliki profil dan latar belakang pekerjaan yang cukup mapan, setidaknya ada 4 (empat) perusahaan multinasional yang digelutinya PT. Astra Daihatsu di Sunter Kemayoran (1978) dengan gaji pertama Rp 60.000, perusahaan ekspedisi udara, PT. Fairchild perusahaan semi konduktor sebagai supervisor dengan gaji Rp 90.000 sampai Rp 400.000 (1980-1986), PT. Fairchild bubar karena tidak setuju dengan pembentukan serikat buruh di perusahaan yang merupakan kebijakan Menteri Tenaga Kerja saat itu, Sudomo, Cold Rolling Mill Indonesia (CRMI) yang kemudian dibeli perusahaannya oleh pemerintah dan sekarang menjadi PT. Krakatau Steel, Cilegon (1986-1995), di PHK disebabkan perampingan karyawan karena PT. Krakatau Steel Go Public, masuk ke pasar bursa, setidaknya 6000 karyawan di PHK pada tahun 1995, namun disuratnya dinyatakan mengundurkan diri.

Ia dan Kasmanelly menikah pada tahun 1980, hingga 1986, ketiga putri mereka lahir. Membeli rumah di Lapangan Tembak, Cibubur, Jakarta Timur pada tahun 1984, hasil dari kerjanya di PT. Fairchild, Kasmanelly juga merupakan karyawati di Fairchild, diperusahaan itulah mereka saling mengenal. Memulai bahtera rumah tangga merupakan hal yang mudah mereka jalani dengan kemapanan mereka masing-masing. Pada awal pernikahan mereka tinggal di rumah orang tua Kasmanelly di Cibubur, sementara rumah orang tua Indra Bakti di Pasar Rebo, banyak kejadian menarik dimasa-masa awal pernikahan mereka dimana apabila Indra Bakti ingin buang air besar, ia pulang ke Pasar Rebo karena tidak tahan dengan sanitasi rumah Kasmanelly, yang seadanya. Sambil tertawa berdua Indra Bakti dan Kasmanelly menceritakan kepada IAS, betapa manjanya Indra Bakti pada masa-masa itu, mesti makan dengan sendok dan garpu tidak bisa makan pakai tangan, lalu tempat tidur dibuatkan oleh Bapaknya Indra Bakti, karena tidak tahan dengan tempat tidur yang ada dirumah Kasmanelly, dengan senyum dibibir mereka dan mata berkaca-kaca menahan air mata mereka mengenang masa muda mereka memulai bahtera rumah tangga.

Praktis sejak PHK tahun 1995, Indra Bakti tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang pasti terhitung sejak itu Indra Bakti menghidupi keluarganya dan membiayai sekolah putrinya dengan pekerjaan serabutan, mulai dari penerjemah buku bahasa inggris dengan tulis tangan hingga menjadi figuran sinetron. Dengan mengiklankan dirinya di koran sebagai penerjemah buku bahasa Inggris Indra Bakti tak cukup beruntung, tak banyak yang menggunakan jasanya, hampir-hampir selama 2 (dua) tahun tak ada satupun yang menjadi pelanggannya. Kemudian ia banting stir beralih profesi sebagai figuran sinetron, di profesi ini ia mendapatkan penghasilan yang seadanya, dengan menggunakan sepeda ia mendatangi lokasi-lokasi syuting, perjalanannya naik sepeda sejauh halim perdana kusuma, Nagrak dan Cikeas. Penghasilannya Rp 35.000 sekali syuting sebagai figuran sinetron, yang cukup dibanggakannya adalah menjadi figuran sinetron hidayah, disitu ia mendapat penghasilan Rp 75.000 sekali syuting, kemudian ia pernah menjadi figuran bintang iklan air mineral Aqua yang dibayar Rp 100.000.

Apabila dirinci lebih jauh, total penghasilan Indra Bakti dari tahun 1995-2014 adalah Rp 500.000 setiap bulannya, dengan uang tersebut ia menyekolahkan ketiga putrinya sampai SMA, tidak satupun putrinya mengecap pendidikan sekolah tinggi seperti dirinya. Ketiga putrinya adalah buruh, Sinta adalah buruh pabrik di kawasan Jl. Raya Bogor, PT Sanyo; Ria adalah janda, buruh dealer sepeda motor Honda di Cengkareng dan putri bungsunya Hanny, ibu rumah tangga Matahari di cibubur dengan penghasilan.

Mampu membuat Lapangan Pekerjaan, namun tak mendapat kesempatan.

Di perbatasan DKI Jakarta dan Bogor, tepatnya pelosok Mekarsari, Cimanggis kita mendapati jajaran toko-toko sederhana, salah satunya adalah toko percetakan, sablon dan plat nomer motor-mobil. Hadi Saputra (25), seorang wirausahawan kecil-kecilan, putus sekolah tinggi dan belum menikah. Ia adalah seorang yatim yang menghidupi keluarganya sedari masa-masa remaja, di umur pendidikannya, lahir sebagai putra sulung dari tiga bersaudara, Hadi Saputra adalah tulang punggung keluarga. Almarhum bapaknya Hendra Saputra adalah seorang pegawai swasta disebuah perusahaan swasta nasional. Semasa hidupnya bapak dari Hadi Saputra ini mengendarai motor vespa untuk berangkat kerja, menghidupi anak istrinya dengan keadaan yang pas-pasan. Lahir dan besar di Jakarta Hadi Saputra bisa dibilang tidak mengenal kota lain selain Jakarta.

Hadi Saputra tidak bisa disebut anak baik-baik di masa remajanya, dengan tato disekujur tubuhnya ia bercerita bahwa semasa sekolahnya Hadi sering terlibat tawuran pelajar, bagi dirinya merupakan sebuah anugerah tersendiri bahwa bisa pulang pergi sekolah dengan keadaan selamat, dan mampu bertahan hidup sampai hari ini, bahkan bisa membuka usaha percetakan dan sablon bukanlah sebuah hal yang pernah dibayangkan olehnya. Baginya hidup adalah tentang selamat sampai sekolah dan selamat sampai rumah. Namun hal itu tidak membuat raut wajahnya kehilangan semangat, dengan segala yang ia bisa, mencoba untuk bertahan hidup.

Setelah lulus SMU, Hadi melanjutkan kuliah, sambil membuka usaha mulai dari membuka kios handphone, kios pulsa, hingga sekarang membuka kios percetakan dan sablon, dilihat dari skala pengelolaan dan pengadaan barang serta ketrampilan yang dijalani dalam usahanya, sebetulnya toko percetakan dan Sablon Hadi Saputra ini bukanlah sebuah usaha remeh temeh, ia memiliki delapan pekerja yang terampil dan mampu memenuhi permintaan produksi dari para pelanggannya. Mulai dari pelanggan eceran sampai pelanggan institusi negara atau BUMN, dan yang luar biasa dari itu semua, proses produksinya manual, yang artinya pengelolaan dan pekerjaan yang dijalani dengan tingkat ketelitian yang seadanya namun mampu memenuhi permintaan produksi.

Toko percetakan dan sablon Hadi Saputra ini menurutnya adalah usaha serabutan, karena seluruh proses kerjanya situasional dan selalu dalam keadaan mendadak tanpa perencanaan bisnis yang rumit. Karena tak memiliki pelanggan tetap, toko percetakan dan sablon ini, mengandalkan kemampuan Hadi Saputra melobi sana sini untuk mendapatkan pesanan. Karena aktivitasnya ini kuliah Hadi Saputra terbengkalai dan disebabkan pula oleh penghasilan yang pas-pasan dan seadanya. Dengan operasional pekerjaan yang seadanya, toko percetakan dan sablon miliknya tak mampu meraup penghasilan yang cukup. Penghasilan yang didapat dari usahanya tak menentu, apabila ada pesanan, hanya satu atau dua unit produksi dalam satu hari dan nilainya tak lebih dari Rp 120.000, sementara apabila ada proyek percetakan dari perusahaan swasta atau BUMN, tak lebih dari Rp 3,5 juta per tahunnya, itupun tak sampai tiga kali dalam setahun, belum pernah usaha Hadi Saputra mendapat diatas itu, sementara untuk menggaji pekerjanya secara rutin, ia tak mampu.

Toko percetakan dan sablon serta plat nomer motor mobil ini telah dijalaninya sejak tahun 2011, ketika ditanya modal usahanya, ia mendapat modal dari pensiun bapaknya Hendra Saputra. Pensiun yang didapat dari ibunya yang merupakan ibu rumah tangga itu, merupakan modal yang diputar dengan usahanya, yang juga sekaligus merupakan sumber keuangan untuk menghidupi keluarga sehari-hari.

Kini usaha percetakan dan sablonnya hendak ditutup, karena sedikitnya pesanan produksi, dan sedang berpikir untuk memulai usaha lainnya. Saya gak kapok buka usaha, ujar Hadi Saputra, wirausaha telah menjadi jalan hidup saya, ada pekerja dan keluarganya yang ikut sama saya dan kita semua sama-sama tanggung renteng dalam menjalankan usaha, susah senang kami rasakan bersama-sama.

Ketika ditanya tentang keinginannya untuk menikah, Hadi Saputra menjawab sambil tertawa, susah cari pacar atau pasangan hidup untuk saya, jangan tanyakan kapan dan dengan siapa saya menikah, sejauh ini saya sudah berusaha namun tampaknya belum berhasil, banyak perempuan yang dekat sama saya, tapi tak mau nikah sama saya, karena tak mampu memberikan kepastian hidup yang layak untuk anak istri, lagipula saya bertato mas, tidak banyak perempuan yang mau dengan pria bertato seperti saya.

Merantau, pedagang suburban hingga punya usaha sendiri.

Bejo Purwanto (28) merantau dari Boyolali di tahun 2003, memulai hidupnya di Jakarta sebagai pedagang bakso dan mie ayam di Srengseng Sawah, Situ Babakan, Jakarta Selatan. Semasa remajanya ia mengatakan, saya ini bandel mas dulu waktu sekolah, makanya hidup saya seperti ini sekarang. Lulusan SMP dan putus sekolah SMK Bina Karya, Ampel, ia mengatakan bahwa karena terjepit masalah ekonomi yang pas-pasan dan tidak adanya ijazah sekolah serta lapangan pekerjaan yang memadai untuk orang seperti dirinya.

Bertemu dan menikah dengan Unah (26) perantau dari Lampung di situ Babakan, sama-sama pedagang. Unah pedagang lontong sayur namun setelah menikah dengan Bejo, ia berhenti berdagang, ikut Bejo mencari nafkah. Memiliki 1 (satu) orang putri berumur 8 tahun dan telah duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 2.

Sampai tahun 2012 Bejo menjalani usahanya, kemudian berganti jualan gorengan, namun semua usahanya itu ikut orang lain, berdagang bakso dan mie ayam digaji Rp 60 ribu per hari dan berjualan gorengan digaji Rp 35 ribu per hari. Kini Bejo punya usaha mandiri dengan modal yang dipinjamkan oleh temannya, usahanya adalah aksesoris jok motor. Selama hidup di Jakarta ia tinggal mengontrak Rp 600 ribu sebulan dan kini ia mengontrak di kios, bersama istri dan putrinya tinggal di kios tersebut. Ketika ditanya penghasilan hariannya ia tak bisa menyebutkan namun ia mengatakan cukup untuk bayar kontrakan kios dan biaya sekolah putrinya, sekitar Rp 2 Juta per bulannya.

Ketika ditanya tentang harapan masa depannya, ia menjawab serius, saya ingin usaha sampai bisa beli pesawat terbang. Harapan ini tidak main-main olehnya, diseriusi sedemikian rupa hingga tak dapat dicerna oleh akal, namun ia mengatakan, lihat saya, dari tidak punya apa-apa hingga punya usaha sendiri, beli pesawat terbang bukanlah hal yang tak mungkin buat saya. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s