Oleh : Ahmad Mardiansyah Kurniawan

ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺇﻥ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻓﺎﺳﻖ ﺑﻨﺒﺈ ﻓﺘﺒﻴﻨﻮﺍ ﺃﻥ ﺗﺼﻴﺒﻮﺍ ﻗﻮﻣﺎ ﺑﺠﻬﺎﻟﺔﻓﺘﺼﺒﺤﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﺘﻢ ﻧﺎﺩﻣﻴﻦ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka “periksalah dengan teliti [Tabayyun]” agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6)

Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

Penyebab Tiada Tabayyun

Pasal 1 – Pada Masa Kanak-Kanak.

Seseorang yang hidup di bawah asuhan orang tua yang tidak memiliki sikap tabayyun, maka sikap tersebut kelak akan meresap ke dalam jiwa anaknya hingga akhirnya anak itupun menjadi potret dari kedua orang tuanya yaitu tidak memiliki sikap tabayyun.

Pasal 2 – Tertipu Oleh ke-FASIH-an KATA dan PERSEPSI.

Adakalanya telinga seseorang itu jika mendengarkan kata-kata manis dan menarik lantas menjadi tertipu, padahal itu hanyalah rayuan dan bunga-bunga perkataan untuk “menciptakan” sebuah persepsi, sehingga seseorang menjadi lalai, “terbajak” kesadarannya yang berakibat tidak melakukan proses dari tabayyun itu sendiri tentang sebuah “penampakan” dan yang “tampak”. 

Inilah jurus retorika yg dimiliki oleh para propagandis untuk membuat massa “terhipnotis” dan “dibajak” kesadarannya untuk mengikuti segala “perintah” dan “kemauan” yang dipersepsikannya.

Karena itulah Nabi saw bersabda tatkala merasakan gejala ini, “Sesungguhnya kalian mengajukan perkara kepadaku, dan barangkali sebagian dari kamu lebih pintar berbicara dengan alasan-alasannya daripada yang lain, maka barangsiapa yang aku putuskan dengan hak saudaranya karena kepintarannya bermain kata-kata, maka berarti aku telah mengambilkan untuknya sepotong bara api neraka, maka janganlah ia mengambilnya”. [HR. Bukhari]

Pasal 3 – Lalai Terhadap Dampak Buruknya.

Seseorang tidak menyadari bahaya buruk meninggalkan tabayyun. Padahal akibatnya akan mencemarkan nama baik orang, penyesalan diri, bersikap hidup buruk, menjadi tukang penebar kebohongan, dll, kecuali menunggangi “tabayyun”.

Pasal 4 – Memonopoli “kebenaran” (padahal hanya sebuah persepsi yg “wajib” diterima sebagai “kebenaran” sebuah versi).

Dihalang-halangi/dibatasi orang-orang untuk mencari informasi dan pengetahuan dari sumber lain. Terkadang dimanipulasi, ditakut-takuti dan me-de-legitimasi sumber-sumber lain yang “mungkin” saja memaparkan dari sudut pandang yang lain, tetapi substansial dan lebih mendekati “nyata”nya, bukan “kata”nya.

Semakin lengkaplah kesadaran orang-orang dibajak… Awas nanti kena semprit dan diberi kartu merah oleh “KPPU” karena me-monopoli “dagangan”nya! 

Jika frasa “tabayyun” digunakan hanya untuk menepis isu-isu “miring”, dan dilakukan bukan untuk menghadirkan “kondisi” yang sesungguhnya, dan bukan juga untuk memperbaiki keadaan serta hanya untuk mengubah “sebuah persepsi” yang jauh dari kenyataan, dan untuk melanjutkan/memperpanjang “game”, maka kembali ke PASAL 2.  

Terapi Terhadap Sikap Tiada Tabayyun

1. Gunakan nalar sehat dan budi yang kuat serta memperluas sudut pandang. Jika mampu, lihat dari ruang “tanpa sudut” dengan cara memperluas “pengetahuan” untuk membedakan mana yang opini mana yang fakta, mana yang haq dari yang batil, mana yang benar dari yang bohong, agar tidak menjadi korban persepsi, hasutan dan propaganda.

2. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap tabayyun atau melakukan depth investigation sendiri. 

Hal ini akan banyak memberi manfaat baginya kepada sikap kritis, penuh pemikiran dan pertimbangan hingga ia selamat dari ketergelinciran dan salah langkah dalam mengambil keputusan/sikap dan bertindak, serta tidak merugikan orang lain.

3. Membaca, memahami, merenungi dan menahan diri untuk tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang masih perlu diuji validitasnya. Sebab banyaknya informasi yang diterima bukan berarti otomatis memahami tentang informasi itu sendiri.  

4. Membiasakan diri untuk selalu mendahulukan penalaran yang sehat daripada “me-DP (Down Payment)” judgment, prasangka dari hasil “Kredit” me-framing sesuatu yang hanya berdasarkan dugaan-dugaan dan utak-atik teori konspirasi, apalagi hanya bersumber dari kebencian, dendam dan “pokoknya, pokoknya”, padahal tidak “menyaksikannya” secara langsung atau belum melakukan investigasi secara mendalam dan menyeluruh. 

Semoga tidak tertipu oleh kafasihan kata-kata, kemasan “perabotan” penampilan dan simbol-simbol yg dikenakan untuk menutupi maksud batil menggunakan kemasan yang haq.

“Better than a thousand hollow words, Is one word that brings peace.

Better than a thousand hollow verses, Is one verse that brings peace.

It is better to conquer yourself, Than to win a thousand battles.”

— Buddha

“Lebih baik dari seribu kata-kata hampa, adalah SATU KATA yang membawa damai.

Lebih baik dari seribu ayat-ayat hampa, adalah SATU AYAT yang membawa damai. 

Jauh lebih baik menaklukkan diri sendiri daripada memenangi seribu pertempuran.” – Buddha

“In the sky, there is no distinction of east and west; people create distinctions out of their own minds and then believe them to be true.”

“Di langit, tidak ada perbedaan timur dan barat; orang menciptakan perbedaan dari pikiran mereka sendiri dan kemudian mempercayai untuk menjadikannya kebenaran.”

“Belajar tanpa berpikir tak ada gunanya. Berpikir tanpa belajar sangat berbahaya.” – Soekarno

“Orang menuntut kebebasan berbicara sebagai sebuah kompensasi atas kebebasan berpikir yang jarang mereka gunakan.” – Søren Kierkegaard

—————

[dari berbagai sumber]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s